Anemia secara umum memiliki arti tidak cukupnya sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Ketika jaringan tubuh kita tidak mendapatkan cukup oksigen, maka fungsinya akan terganggu. Anemia pada ibu hamil, menjadi perhatian yang lebih, karena ini akan mempengaruhi janin yaitu berat badan lahir rendah, kelahiran prematur dan kematian ibu. Berikut adalah tiga jenis anemia pada kehamilan :

  1. Anemia ringan

Wanita dengan anemia ringan saat hamil mengalami produktivitas kerja yang menurun. Wanita dengan anemia ringan akan kesulitan mencari nafkah jika pekerjaan yang dilakukan melibatkan pekerjaan manual. Wanita hamil yang mengalami anemia ringan kronis bisa melewati masa kehamilan dan persalinan tanpa keluhan karena dapat dikompensasi dengan baik.

  1. Anemia sedang

Wanita dengan anemia sedang dapat mengalami penurunan produktivitas kerja yang signifikan dan mungkin akan sulit melakukan pekerjaan rumah tangga dan merawat anak. Data dari India dan beberapa negara lain menunjukkan angka morbiditas Ibu yang lebih tinggi pada wanita dengan Hb di bawah 8 gm/dl. Wanita tersebut lebih rentan terhadap infeksi dan membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk pemulihan dari infeksi. Kelahiran prematur juga lebih banyak dijumpai pada wanita dengan anemia sedang. Bayi yang dilahirkan dari Ibu dengan anemia sedang memiliki berat badan yang lebih rendah dari rata-rata dan angka kematian bayi yang lebih tinggi. Anemia sedang menyebabkan Ibu tidak mampu mengkompensasi kehilangan darah sebelum atau selama masa persalinan dan meningkatkan risiko terkena infeksi. Anemia sedang juga dihubungkan dengan kejadian kematian Ibu saat persalinan dan pendarahan post partum, hipertensi akibat kehamilan dan sepsis.

  1. Anemia Berat

Anemia berat dibedakan menjadi 3 tahap : compensated, decompensated, dan yang terkait dengan kegagalan sirkulasi. Cardiac Decompensation biasanya terjadi ketikan Hb di bawah 5,0 g/dl. Jantung berdebar dan sesak napas meski saat istirahat merupakan gejala dari Cardiac Decompensation. Mekanisme kompensasi ini tidak memadai untuk mengatasi penurunan kadar Hb. Terjadi kekurangan oksigen hasil metabolism anaerob dan akumulasi asam laktat.

Pada akhirnya dapat menyebabkan kegagalan peredaran darah. Apabila hal ini tidak diobati, dapat menyebabka edema paru bahkan kematian. Kehilangan darah sebanyak 200 ml pada tahap ketiga ini dapat menyebabkan shock dan kematian pada wanita dengan anemia berat. Data dari India menunjukkan bahwa angka morbiditas Ibu lebih tinggi pada wanita dengan Hb di bawah 8,0 g/dl. Angka kematian Ibu menunjukkan peningkatan yang tajam ketika tingkat Hb ibu turun di bawah 5,0 g/dl. Anemia secara langsung menyebabkan 20% kematian Ibu di India dan secara tidak langsung menyumbang 20% kematian Ibu lainnya.

Penyebab anemia terutama adalah kekurangan zat gizi yang berperan dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein, besi, vitamin B12, vitamin C dan asam folat. Sehingga diperlukan tambahan suplementasi yang tidak hanya mengandung zat besi, namun juga mengandung asam folat, vitamin dan mineral untuk memenuhi kebutuhan gizi Ibu selama hamil. Vitamin B12 dibutuhkan untuk mengaktifkan asam folat dan metabolisme sel, terutama sel-sel saluran cerna, sumsum tulang dan jaringan syaraf. Asam folat berperan dalam metabolisme asam amino yang diperlukan dalam pembentukan sel darah merah.

Penelitian Li WenXing (2016), mengungkapkan fungsi asam folat dapat meningkatkan enzim-enzim yang penting untuk metabolisme di hati. Kekurangan vitamin B12 dan asam folat selama kehamilan berhubungan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah dan terganggunya pertumbuhan janin. Selain itu kekurangan B12 dapat menyebabkan kesemutan, gangguan penglihatan, alzheimer dan demensia. Sebanyak 80% ibu dengan kadar asam folat >27,00 nmol/L melahirkan bayi dengan ukuran lingkar kepala normal, sementara ibu dengan kadar asam folat rendah <27,00 nmol/L hanya 15,4%.

Vitamin C juga dibutuhkan selama kehamilan yang berfungsi membantu penyerapan besi non heme dengan mereduksi besi ferri menjadi ferro dalam usus halus sehingga mudah diabsorpsi. Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan besi bila diperlukan, sehingga risiko anemia defisiensi besi bisa dihindari. Menurut Pernille (2012), kekurangan vitamin C dapat menyebabkan kerusakan hipoccampus.

Reference :

  1. Sabina, S et al. An Overview of Anemia in Pregnancy. JIPBS. 2015. Vol 2 (2), 144-151
  2. Astriningrum E et al. Asupan Asam Folat, Vitamin B12 dan Vitamin C pada Ibu Hamil di Indonesia Berdasarkan Studi Diet Lokal. Gizi Pangan. 2017. 12(1):31-40