Kehamilan adalah momen istimewa yang dirasakan oleh pasangan suami istri. Baik kehamilan pertama yang dinantikan atau kehamilan berikutnya yang menjadi berkat dan kebahagiaan menantikan kehadiran si jabang bayi. Mengikuti perkembangan janin dan merasakan gerakannya selama di kandungan menjadi momen romantis tersendiri yang dialami oleh pasangan suami-istri.

Namun, kebahagiaan seketika hilang ketika pasangan dihadapkan dengan kondisi janin yang lemah hingga menyebabkan keguguran. Tak jarang keguguran justru menjadi alasan retaknya hubungan suami istri, ketika pasangan tidak bisa menemukan cara untuk saling mendukung satu sama lain dan melewati masa berkabung dengan kompak. Perasaan bersalah dan penyesalan kerap menghantui seorang Ibu yang mengandung bayinya, perasaan tersebut dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun.

Tak hanya itu, setidaknya ada 5 kondisi psikologis yang dirasakan oleh seorang Ibu yang mengalami keguguran. Berikut 5 pengaruh keguguran terhadap kondisi psikologis ibu :

  1. Rasa Sedih yang amat dalam

Kondisi psikologis pertama yang dirasakan oleh Ibu yang mengalami keguguran adalah rasa sedih yang mendalam. Rasa sedih itu muncul karena merasa kehilangan calon buah hati yang telah dinanti-nantikan. Kesedihan yang lebih mendalam terutama dirasakan oleh Ibu dengan kehamilan yang pertama dan calon buah hati yang telah lama dinanti-nantikan. Rasa sedih yang juga ditunjukkan oleh pasangannya akan menambah luka hati seorang Ibu sehingga membuatnya merasa bersalah dan gagal menjadi orang tua.

  1. Merasa bersalah dan gagal menjadi orang tua

Ibu hamil yang baru saja mengalami keguguran akan mengalami perasaan bersalah karena merasa gagal menjaga calon buah hati di dalam kandungannya. Kesedihan yang nampak dari pasangannya juga akan menambah rasa bersalah yang dirasakan oleh seorang Ibu karena merasa gagal memberikan kebahagiaan yang telah dinanti-nantikan oleh pasangannya. Ibu akan merasa sangat bersalah tidak hanya kepada diri sendiri dan pasangan, tetapi juga terhadap keluarga dan bayinya yang sudah meninggal. Ibu juga merasa gagal menjadi orang tua dan merasa malu terhadap orang lain. Beberapa Ibu bahkan mengurung diri dan menolak bertemu siapapun. Rasa bersalah ini akan bertahan sangat lama dan akan sering muncul kembali saat melihat sahabat atau kerabatnya yang sedang menimang bayi mereka yang mungil dan lucu. Pada tahap ini, diharapkan suami dan keluarga terdekat dapat mendampingi seorang Ibu melewati masa berkabung dan masa penyesalan, sehingga kondisi psikologis Ibu bisa segera pulih dan menjalani kesehariannya dengan normal kembali.

  1. Kecemasan berlebih dan trauma

Selain merasa bersalah paska keguguran, Ibu juga merasakan kecemasan yang berlebih dan trauma untuk hamil lagi. Kecemasan dan trauma ini lebih disebabkan karena adanya ketakutan terhadap kejadian yang berulang dan ketakutan karena merasa tidak bisa menjaga calon bayi. Kondisi psikologis Ibu yang juga lebih sensitive setelah mengalami keguguran juga memicu adanya perasaan cemas yang berlebih.

  1. Merasa stress

Sebagian besar ibu yang mengalami keguguran akan mengalami gangguan psikologis sampai dengan merasa tertekan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Imperial College London dalam penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal BMJ Open, tim peneliti mensurvei 114 wanita yang baru saja mengalami keguguran. Mayoritas wanita dalam penelitian ini mengalami keguguran pada usia kehamilan sekitar 3 bulan. Hasil survei menunjukkan, empat dari sepuluh wanita dilaporkan mengidap gejala post traumatic stress disorder (PTSD) tiga bulan setelah kehilangan calon bayinya. Gangguan trauma dan stress akibat keguguran ini, juga dilandasi oleh peristiwa penuh tekanan yang menakutkan dan menyedihkan. Sehingga tidak jarang menyebabkan seseorang teringat kembali kejadian tersebut lewat mimpi buruk, kilas balik, pikiran atau gambaran di saat-saat tidak diinginkan. Gejalanya muncul mulai dari berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah kejadian sampai bisa menyebabkan masalah tidur, kemarahan, dan bahkan berubah menjadi depresi

  1. Depresi

Perasaan tertekan atau stress yang tidak diatasi dapat menimbulkan depresi pada Ibu yang mengalami keguguran. Depresi ini muncul karena perasaan yang sangat berat untuk bisa menerima kehilangan calon bayi. Kondisi depresi ini dapat membuat Ibu kehilangan selera makan, malas membersihkan diri dan melakukan aktivitas sehari-hari, merasa bingung dan sulit berkomunikasi. Depresi yang dialami oleh Ibu yang mengalami keguguran bisa lebih berat dibandingkan dengan syndrome baby blues yang kerap dialami oleh Ibu paska melahirkan. Perasaan depresi ini kerap disertai dengan keluhan-keluhan fisik, seperti sakit kepala, mual, dan rasa nyeri yang tidak jelas penyebabnya.

 

Referensi :

  1. Dampak Psikologis Pada Wanita yang Mengalami Abortus Spontan. Jurnal Psikologi. 2010. Vol. 4(1), 1-7
  2. Farren, et al. Post-traumatic stress, anxiety and depression following miscarriage or ectopic pregnancy: a prospective cohort study. BJM Open. 2016. 6:e011864